Perang ini juga terjadi pada tahun
5 Hijriah, setelah Perang Ahzab. Melihat tingkah laku orang-orang Yahudi Bani
Quraizah yang telah menimbulkan bahaya laten bagi umat Islam, dipandang perlu
adanya usaha-usaha preventif. Orang-orang Yahudi itu telah mencoba membatalkan
perjanjian perdamaian yang mereka sepakati bersama dengan Nabi, telah mengadu
domba antara kaum Muslimin dengan kaum kafir Quraisy. Dan pada tahun 5 Hijriah
telah pula bersekutu dengan orang-orang Yahudi lainnya beserta dengan
orang-orang Musyrikin Makkah untuk memerangi umat Islam. Oleh karena itu Nabi
saw. berpikir untuk memberi pelajaran buat mereka, yaitu mengusirnya dari
wilayah Madinah, agar tidak lagi melakukan keonaran-keonaran yang bisa
membahayakan pusat dakwah (Madinah).
Kepada pasukannya, Nabi
memerintahkan untuk segera berangkat dan agar semua orang bisa mendapatkan
waktu shalat Ashar di perkampungan Bani Quraizah. Mereka diperintahkan untuk
melaksanakan shalat Ashar di sana. Mereka segera berangkat dengan kekuatan
3.000 orang tentara dan bendera Islam di pegang Saidina Ali r.a. Sesampainya di
wilayah perkampungan itu, Ali r.a. dengan sigapnya segera mengintai musuh yang
bertahan di dalam benteng-bentengnya. Ketika itulah beliau mendengar
onang-orang Yahudi mengutuk Nabi dan isteri-isterinya, dengan kata-kata yang
kotor. Hal ini dilaporkan Ali kepada Nabi dan minta agar Nabi saw. tidak
mendekati benteng-benteng tersebut.
“Kalau mereka berada jauh dariku,
memanglah demikian perilakunya, karena mereka memang berakhlak munafik dan suka
berolok-olok,” ujar Nabi saw. lalu mendekati benteng mereka. Begitu melihat
Nabi, berhentilah mereka mengolok-olok dan mengatakan kata-kata tak senonoh
tadi.
Nabi memerintahkan pasukannya agar
mengepung perkampungan Yahudi itu secara ketat, hingga mereka keluar untuk
berunding. Setelah dua puluh lima hari terkepung, menyerahlah mereka.
Penyerahan ini disampaikan kepada Rasulullah oleh Saad bin Muaz, seorang
pemimpin kabilah Aus yang bersekutu dengan Bani Quraizah. Ia menyatakan
menyerah tanpa syarat dan akan pergi dari situ. Bila orang-orang Yahudi bani
Quraizah mencoba memerangi umat Islam, maka Saad mempersiapkan untuk
menghantamnya habis-habisan. Penyerahan ini diterima oleh Nabi dengan lega,
karena dengan demikian berarti berakhirnya gangguan dan perlawanan kaum Yahudi
di sekitar wilayah Madinah.
Dalam peperangan Bani Quraizah ini
turun ayat-ayat yang menerangkan, bagaimana orang Yahudi telah mengingkari
janji-janji yang telah dibuatnya. Ayat-ayat dimaksud antara lain:
“Dan ingatlah, ketika segolongan di
antara mereka berkata: Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagi
kamu, maka kembalilah kamu. Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi
untuk kembali pulang dengan berkata: Sesungguhnya rumah-numah kami terbuka,
tidak ada yang menjaganya, padahal rumah-rumah itu sekali-kali tidaklah
terbuka. Mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau Yatsrib (Madinah)
diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad,
niscaya meneka mengerjakannya. Dan mereka tiada akan berhenti untuk muntad itu,
melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka itu telah berjanji
kepada Allah dahulu: Mereka tidak akan berbalik mundur. Dan penjanjian dengan
Allah itu akan dimintakan pertanggungjawaban. Katakanlah: Lari itu sekali-kali
tidaklah benguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau
pembunuhan. Dan kalau kamu terhindar dari kematian itu, kamu juga tidak akan
mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab:13-16)
“Dan Dia menurunkan orang-orang
Ahli Kitab yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng
mereka. Dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka
kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu
tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka dan tanah yang belum kamu
injak. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 26-27)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar